« Home | CATATAN SEORANG HAMBA (Sebuah Cerpen) » | Kekuatan Persahabatan ( Sebuah Puisi ) » | IMAJIKU (Sebuah Puisi) » | Seruling Malam II (Sebuah Puisi) » | Seruling Malam I (Sebuah Puisi) » | BULAN SEPEREMPAT (Sebuah Cerpen) » | LUKISAN JEMARI TAK BERKUKU (Sebuah Cerpan) » | DIALOG DUA HATI » | Istikhfar ( sebuah Puisi) » | Perempuan Mencinta (Sebuah Puisi) »

MENANTI JAWAB ( Sebuah Cerpen )

By : Art 02

“Aneh, setiap kali aku duduk di sini, setiap itu juga aku rasakan ada yang mengintaiku. Tapi siapa yah?” Arya terus berguman sambil menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon Akasia.
“Arya, kamu lagi ngapain,” sapa seorang lelaki jangkung yang akrab dipanggil Johan.
Arya yang mendengar sapaan itu hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
“Kamu tahu nggak, anak baru yang masuk ke kampus kita seminggu yang lal ternyata pindahan dari UI ( Universitas Indonesia ).”
“Kalau itu sih aku sudah tahu,” balas Arya dengan jari tangan yang terus memainkan hamparan rumput di hadapannya.
“Arya, gadis itu lumayan juga yah.” Johan kembali angkat bicara.
“Tuhkan… penyakit kamu kambuh lagi.”
Johan menanggapi ucapan Arya dengan senyum santai.
“Udah deh Jo!” seru Arya sambil menarik lengan kawannya untuk bergegas ke ruangan kelas karena sebentar lagi perkuliahan akan dimulai.
Seperti biasanya, jadwal kuliah sore pasti akan diwarnai wajah-wajah kusut para mahasiswa, ada juga yang saling kirim SMS untuk menghindari rasa bosan, ada yang ngobrol diam-diam bahkan ada yang sampai tertidur. Suatu keberuntungan besar jika dosen tidak melihat gelagat mereka, kalau tidak mereka pasti akan babak belur.
“Arya, anak baru itu perhatiin kamu terus.” Sambil setengah berbisik Johan menyapa Arya.
“Itu hanya kebetulan saja,” jawab Arya dengan nada cuek.
Akan tetapi, saat dia menoleh ke sudut ruangan tempat anak baru itu duduk, ternyata memang benar. Gadis berkerudung jingga itu tengah memperhatikannya dan ketika beradu pandang dengan Arya dia langsung menundukkan wajahnya. perasaan Arya terusik oleh tatapan yang penuh tanda tanya dari kebisuan sorot matanya. Dia menyadari bahwa pancaran tatapan itu memendam luka yang sangat dalam dan harapan yang menanti jawab.
Perkuliahan kini telah berakhir dan bagai domba-domba yang kelelahan, para mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan kelas. Arya masih tidak habis pikir dan tatapan yang penuh rahasia itu tetap membanyangi imajinasinya. Apalagi saat dia melihat langsung gadis itu mengintipnya dari balik pintu ruangan perkuliahan. Dia semakin bertanya-tanya benarkah gadis itu datang membawa anugerah kasih untuknya dan menanti uluran tangan Arya untuk menggenggam anugerah itu, sebagaimana hasil survei Johan dan kawan-kawannya.
Arya tersenyum sendiri, membayangkan dirinya dengan si gadis yang selalu mengintai dia. Arya berusaha mendekati sosok itu tetapi semakin dekat, gadis itu berusaha menjauh bahkan lari darinya.
“Dia benar-benar gadis misterius.” Guman Arya.
Waktu terus berlalu tanpa berusaha menghadirkan solusi bagi manusia yang menanti jawab. Ia akan terus berputar mengiringi perjalanan zaman yang mengantarkan manusia pada sebuah pengharapan.
Hari ini Arya sangat terkejut menyaksikan jari-jari lembut mengutak-atik tas ranselnya, yang tertinggal saat dia ke kantin kampus.
“Eh… kamu lagi ngapain!” seru Arya pada pemilik jemari lembut.
Gadus itu terdiam, rona merah di wajahnya tidak dapat dia sembunyikan.
“Maaf,” hanya itu kata yang terucap.
“Tidak bisa, kamu harus memberikan penjelasan kepadaku. Kemarin kamu menatapku seolah-olah aku ini seorang penjahat besar. Sekarang kamu membuka milik orang tanpa izin, apa sih yang kamu inginkan?” Kali kesabaran dan rasa penasaran Arya semakin memuncak.
Mata yang memerah dan jawaban yang nyaris tak terdengar mengiringi kepergian gadis itu. Dia terus berlari menghindari kegugupannya akan kenyataan yang baru saja menyapanya.

***
Keesokan harinya, Arya dikejutkan dengan kehadiran sepucuk surat yang terselip di sisi pintu lokernya.
“Benarkan, apa yang aku bilang tempo hari.” Goda Johan.
“Maksud kamu apa, Jo?”
“Gadis itu naksir sama kamu.” Balas Johan sambil tersenyum-senyum.
Arya tidak lagi memperdulikan apa ucapan Johan. Dia segera membuka surat yang kini ada di tangannya.
Assalamu’alaikum wr.wb
Dear, Arya
Aku tahu bahwa penasaran itu bukanlah hal yang menyenangkan
Aku juga merasakan hal yang sama saat ini
Kamu mungkin akan marah dan resah atas segala hal yang kuhadirkan
Namun bayangkan saja, jika manusia yang kita sayangi suatu saat
telah melambaikan tangan dan disaat yang lain hadir kembali.
Apakah engkau titisannya? Aku bingung dan maafkan aku atas kejadian kemarin.
Wassalam

Arya menoleh ke seluruh sisi ruangan untuk mencari gadis itu, namun yang dicari tidak juga menampakkan wajah. Tetapi suatu isyarat dari bisikan nuraninya membuat dia dapat menemukan, sosok yang dicari sedang termenung di taman kampus, tempatnya sering nongkrong.
“Ya, ada apa?” tanya Johan ketika melihat Arya yang tiba-tiba saja pergi meninggalkannya.
Arya seakan acuh dengan pertanyaan Johan dan terus berlari menuju taman kampus.
“Hai…,” sapa Arya dengan agak ragu.
Gadis itu berbalik menatap Arya.
“Maksud kamu apa?” tanya Arya sambil memperlihatkan sepucuk surat yang bari dia terima.
“Jangan ragu, jika kami ingin menyampaikan suatu hal aku bersedia mendengarkannya.” Lanjutnya.
Gadis itu tersenyum pada Arya.
“Astagfirullah….” Bisik Arya. Dia menyadari hatinya telah terusik oleh senyuman itu. Untuk sementara waktu keheningan membaluti mereka berdua.
“Apakah engkau benar-benar ingin mendengarkan kisahku?” tanya gadis itu dengan tiba-tiba.
Arya menganggukkan kepalanya.
“Suatu kecelakaan pesawat telah merenggut nyawa seseorang yang sangat kusanyangi, dan milikku satu-satunya. Hingga saat ini aku tidak pernah tahu di mana kuburnya karena mayatnya tidak ditemukan di lokasi kecelakaan. Dan….” Gadis itu menghentikan ceritanya.
“Dan… kenapa?” tanya Arya dengan penasaran.
“Dia mirip sekali denganmu, Arya.”
Arya terharu mendengar kisah itu. Ternyata anggapannya selama ini salah. Gadis itu tidak pernah mengharapkan kasihnya. Arya terkejud saat gadis itu memperlihatkan sebuah sketsa wajah.
“Dia ini kakakku, Andi setiawan.”
Arya seakan-akan tidak percaya dengan semua itu.
“Pertama kali aku melihat kamu pada kegiatan lokakarya nasional di Jakarta, beberapa bulan yang lalu, kurasakan dia hidup kembali. Aku berusaha mencari informasi tentang kamu, ternyata kamu kuliah di sini. Itulah sebabnya aku pindah ke kampus ini.”
Arya memalingkan wajahnya karena tidak sanggup menatap tetesan mutiara putih dari kelopak mata gadis itu yang ternyata bernama Amelia. Arya tidak tahu harus berbuat apa karena di satu sisi dia sangat tersentuh dengan cerita Amelia dan usahanya bertemu dengan Arya. Tetapi di sisi lain dia menyadari ada hijab di antara mereka.
“Lupakan saja Amelia, anggap saja semua itu tidak pernah terjadi. Perjalanan kamu masih panjang.” Ucap Arya sambil menatap Amelia.
Amelia tertunduk.
“Mengapa setiap orang yang kutemui harus berkata begitu. Melupakan sesuatu yang tersimpan dalam memori kenangan menurutku adalah wujud kepasrahan. Walaupun dia telah pergi, tetapi dia tetap di hatiku yang setiap waktu akan menjelma dan menghadirkan inspirasi serta motivasi dalam perjuangan hidupku. Aku tidak akan melupakannya karena itu sama saja mengajakku lari dari kenyataan, dan aku tidak ingin jadi seorang pengecut.” Kata Amelia
Dalam hatinya, Arya mengagumi tekad dan ketegaran hati Amelia.
“Maukah kamu menjadi adikku?” tanya Arya dengan tiba-tiba setelah sekian lama keduanya bungkam.
“Aku nggak bisa.”
“Kenapa…?”
“Aku tidak berhak memenjarakan kamu dalam egoku.”
“Bukankah kamu sedang mencari kakakmu yang hilang?”
“Iya… akan tetapi aku tidak pernah mengharapkan orang lain hadir menjadi dirinya karena kutahu itu tidak akan mungkin lagi.”
Arya akhirnya terdiam.
“Terima kasih atas simpatimu, tetapi jika aku menerima tawaranmu. Dia pasti tidak memperbolehkan hal itu.” Lanjut Amelia.
Arya menatap Amelia, tetapi Amelia semakin menyembunyikan wajahnya dari tatapan itu. Dari caranya berkata dan sikapnya yang polos Arya menyadari bahwa Amelia adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga religius, apalagi saat dia menundukkan wajahnya ketika Arya menatapnya. Dia seolah-olah mendapat bisikan.
“Jagalah pandanganmu….”
Amelia melangkah menjahui Arya, diiringi dengan sebuah senyuman. Dalam hati kecilnya, dia berbisik bahwa kakaknya tidak mungkin hadir kembali karena singgasana cinta telah menantinya di nirwana. Namun yang jelasnya kini mentari telah tersenyum kembali, setelah sekian lama membenamkan dirinya pada altar kesendirian. Tanya telah menemukan jawab, karena jawaban ternyata ada di depan mata.
“Subahanallah….” Bisik Arya mengiringi langkah gadis itu.