Wednesday, March 15, 2006

Cerita zaman (sebuah puisi)

bercerita tentang masa kecil
yang terbayang adalah keceriaan
saat bersama menerbangkan layangan
atau menysun istana pasir ditepi panti

bercerita tentang masa remaja
menarilah prakata pada cinta
bertukar rasa melacak jati diri
setiap saat bermain pada kemayaan dunia

bercerita pada gerbang kedewasaan
bertanyalah manusia akan tujuan hidup
menjalin komitmen bukan sekedar istana pasir
mewujudkan impian dalam satu ikrar

hingga tirai menyibak tabir senja
yang terpikir adalah bekal akhirat
akan amalan yang terkumpul
agar kelak cerita masa kecil terulang lagi

jakarta, 18 februari 2006

Reinkarnasi rasa (sebuah puisi)

aku sekarang belajar percaya
pada sebuah kilah yang mengabaikan rasa
pada asumsi yang menuding cinta
pada manusia yang membunuh sayang

mereka mengingkari sebuah keagungan
mereka menenggelamkan kapal berbunga
menikam diri dan khianati rasa
padahal sepenggal asa ingin teriak

apakah salah rasa itu tersenyum?
apakah dosa jika ia disemai?
padahal yang kutahu rasa itu anugerah
yang selayaknya dibagi untuk sesama

sekarang coba kau diam
pejamkan mata dan panggillah malam menemanimu
tak usah kau ikut sertakan bulan dan bintang
agar kelam mengundang jujur

jangan biarkan malam berlalu
sebelum jawab menjumpaimu
karena perginya ia akan lahirkan
reinkarnasi rasa yang setelahnya entah milik siapa

jakarta, 17 februari 2006

Melodi kamar 3 x 3 (sebuah puisi)

kuselami kesendirianku
dalam bingkai dinding persegi
bersama sebatang pena
dan sebuah buku sahabat bisuku

bagaimanakah mengusir rasa bosan
yang selalu hadir saat begini
padahal aku sama sekali tak ingin
dan hendak berlari pergi

baru kali ini aku merasa
benar-benar tak berguna
diantara kawan seperjuanganku
padahal tak seharusnya aku diam

kini dentingan waktu menertawaiku
karena sosok gadis yang terkurung
hanya melukis beban
dan kudengar dinding pun mencercaku

berkali-kali panggilan kabar
mengajakku untuk segera pulang
disana mereka menanti
kehadiran gadi perhati baja

aku hanya bisa menatap terawang
pada langit-langit kamar
menunggu kabar kembali
menjemput ceria kawan seperjuangan

tunggulah aku kawan!!!
tetapi jangan tunda
apa yang bisa kau lakukan hari ini
karena waktu terus bergulir
menati tangan pejuang menggores kebungkaman penguasa

jakarta, 17 februari 2006

Citra Puteri (sebuah puisi)

yang kau impikan kelembutan
yang kau harapkan pesona pualam
yang kau rindukan kerdipan sayang
demikian mengakar citra puteri di hati

kau semaikan keabadian
dalam perjalanan waktu
yang enggan menoleh ke belakang
engkau tetap merantaui hidupmu
tuk' gapai citra puteri

sementara tak pernah terpikir
seorang satria penunggang kuda
menetipkan rindu pada adinda
karena yakinnya akan cipta citra puteri
dalam atap istana cinta

jakarta, 17 februari 2006

Tanyaku Pada Rasa (sebuah puisi)

apakah memang ekspresi yang tak terungkap
mesti terbahasakan dalam anehnya sikap?
dengar Tuhan aku bertanya!
karena kuanggap banyak
yang telah berubah
antara dulu dan apa yang kulihat sekarang

inikah yang dinamakan bifurkasi cinta?
dimana pergulatannya menelusuri pelampiasan lain
haruskah gelora berakhir bencana?
padahal Engkau selalu membuka jalan
bagi pencinta yang jujur pada cintanya

jakarta, 16 februari 2006

Romansa Cinta (sebuah puisi)

disuatu senja bersama hamparan ilalang
mendesir angin berbisik manja
bertabur bahagia merona cakrawala
melukis pelangi di tabir sore

saat itu kudengar ia perlahan memanggil
mengarahkan tatapanku
pada perempuan terbalut kebaya
beserta lelaki yang di pundaknya tersemat pacul

mereka melangkah, tukar cerita
akan romansa cinta yang ceria diusia senja
aku kembali teringat
pada bocah perempuan disuatu hari
meratap pada hamparan ilalang

ia menghaturkan kisah
tentang tragedi pernikahan dini
karena belenggu tradisi
ia pun terpaksa dan keterpisahan memuncah

aku menjadi iri
pada sepasang kakek-nenek
yang kian samar dari pandanganku
akankah tanyaku tentang keagungan cinta
berakhir setia, layaknya romansa cinta mereka?

Jakarta, 16 februari 2006

Seniman Kereta (sebuah puisi)

dengan bermodal tepuk tangan
dengan menggandeng gitar mungil
alunan suara pas-pasan
dan pakaian yang dipaksakan kerea
mereka bernyanyi bersama berisiknya roda kereta

mungkin mereka berkata
bahwa yang mendengar itu bahagia
bahwa yang mengguk itu terharu
padahal irama itu kurasa malah mengundang benci

sebab dendangannya setengah hati
karena lagu tak dijiwai seni
lantunan itu diharap mengalirkan receh
yang kepingannya tak tentu ikhlas

Jakarta, 16 februari 2006

Kereta semu (sebuah puisi)

dalam kereta
yang berjalan guncang
hadir pemandangan sendiri
yang mengundang ingin tahu

benarkah manusia itu egois?
kenapa harga kursi haru kubayar mahal?
mengapa individualistik mesti hadir?
padahal kita mengaku makhluk sosial

entahlah....
baiknya kutanya saja pada lambaian
atap rumah kumuh yang berjalan
dibalik jendela kereta

sebab jika kutanya mereka
aku rasapun tak mungkin
karena hanya akan dibalas dengan
dengkuran!

perjalanan jogja-jkt 15 februari 2006

Jejak Tersisa

    Nama :
    Web :
    Jejak :
    :) :( :D :p :(( :)) :x
Muchniart Production @ 2006