« Home | Dua Lelaki ( sebuah Puisi ) » | SEPOTONG ROTI ( Sebuah Puisi ) » | GALAU ( Sebuah Puisi ) » | MENANTI JAWAB ( Sebuah Cerpen ) » | CATATAN SEORANG HAMBA (Sebuah Cerpen) » | Kekuatan Persahabatan ( Sebuah Puisi ) » | IMAJIKU (Sebuah Puisi) » | Seruling Malam II (Sebuah Puisi) » | Seruling Malam I (Sebuah Puisi) » | BULAN SEPEREMPAT (Sebuah Cerpen) »

MUNAJAT KEFAKIRAN HAMBA ( Sebuah Puisi )

Bersama lengkingan waktu
Yang terus menjerit
Kurasa ada yang berlalu
Namun tak sanggup kupandangi
Lantaran dia terus memanggilku
Dibalik tirai usang yang pudar

Lalu kutanya pada hati
Apakah dia lapang
Pada pengkhianatan sumpah
Yang pernah kuucap
Saat segumpal janin
Mendiami rahim?
Lantas kudengar ia menjerit

Kucoba berkaca pada kilauan cermin
Namun balasannya adalah keretakan
Sehingga biasan cahaya sulit terpancar
Aku menjerit, sebab maaf juga
Ingin kupanggil
Layaknya mereka

Sekarang kurasa Tuhan semakin murkah
Karena kasihnya kutikam dengan
Keangkaraan nafsu
Padahal aku juga rindu usapan kasih-Nya
Lewat tangan taubatku yang kuulurkan
Dan kuharap dia akan menyambutnya
Dalam munajat kefakiran hamba

Makassar, 29 Oktober 2005, For my new friend..INDRA..